~Dresthya Aranggani~
“Materi belajar cuma kayak angin lewat doang, masuk telinga kanan keluar telinga kiri”. Saat kami tanyakan penyebabnya, paling banyak alasan yang dilontarkan peserta didik adalah “kelasnya membosankan”, “jaringan di tempat saya jelek”, “saya ngantuk kalo disuruh lihat layar gadget terus menerus”, dan masih banyak lagi. Hal-hal itulaah yang mempersulit guru dalam menyelenggarakan pembelajaran. Boro-boro mau meminta peserta didik untuk menyalakan kamera saat pertemuan online, peserta didik hadir saja, guru sudah sangat bersyukur.
Dari berbagai alasan yang dilontarkan peserta didik tersebut, dapat kita lihat bahwa beberapa kendala pembelajaran online tidak dapat guru atasi, seperti jaringan peserta didik yang jelek atau ada juga peserta didik yang harus bergantian menggunakan gadget dengan dik atau kakaknya yang mungkin juga sedang belajar online di waktu yang sama.
Namun, ada beberapa alasan yang sebenarnya dapat guru atasi, seperti pembelajaran yang membosakan bahkan guru yang terlalu banyak ceramah, dan masih banyak lagi. Lalu apakah yang harus guru lakukan?
Mengawasi peserta didik satu persatu? Melakukan kelas online satu persatu dengan peserta didik? Tentu tidak! Banyak guru yang terus memutar otak untuk mengubah metode, strategi dan teknik pembelajaran agar peserta didik merasi tertarik dan tidak mudah bosan saat pembelajaran online berlangsung. Biasanya guru akan mengubah sistem pembelajaran konvensional menjadi lebih interaktif. Dalam kondisi seperti ini, sudah sangat tidak memungkinkan bagi guru untuk melakukan pembelajaran satu arah. GUru dapat membuat kelompok-kelompok belajar kecil. Biasanya belajar secara kelompok justru lebih efektif, peserta didik dapat mengobrol sekaligus berdiskusi tentang materi yang sedang dipelajari. Tentunya tetap harus dibawah pengawasan guru yaa. Takutnya 80% ngobrol, 20% belajar hehehe…
Guru juga dapat memanfaatkan sumber belajar online seperti film, video pembelajaran bahkan game pembelajaran. Hal itu dapat membua peserta didik merasa tertarik serta tertantang.
Sebenarnya masih banyak lagi yang bisa guru lakukan selama pembelajaran daring. Jangan sampai pembelajaran daring menyebabkan terjadinya ‘loss learning’. Semangat para guru dan calon-calon guru! terus explore ya!! Sampai jumpa!
Tidak ada pertumbuhan di zona nyaman. Tidak ada kenyamanan di zona pertumbuhan.
